Kejahatan Tak Akan Pernah Hilang *&*%$%#$**


“Entah kenapa ya Pak……tapi saya yakin kalo salah satu diantara kita ada yang benar , dan satu orang lainnya ada di posisi ‘ hampir benar’ “ Kubuka kembali mulutku untuk bersuara dengan sosok dosen dihadapanku ini .

Kita bahas lagi di kulah minggu depan , ok?! Kelas selesai” Kalimat itu meluncur segera dari Beliau, entah memang karena sudah bel, atau karena suasana makin tidak nyaman.
Asalammualaikum !””””..walaikum salam , paak!!..”””

“Chi,aku jadi tertarik lanjutin obrolan dengan kamu . Siang ini kosong,kan ?” Doni menghampiri kursi saya.
“My dear,Doni…kapan sih kamu gak tertarik sama aku ? But sorry, Don!Aku lagi gak minat untuk bicara sama orang jahiliah yang intelek”
“Maksud kamu,…saya?”
“Siapa lagi?”
Dijatuhkannya tubuh itu dikursi sebelahku . Matanya menatapku sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan dalam ritme teratur ,lalu bicara,”Rupanya kamu masih terbawa percakapan kita kemarin . Masih tentang kertas Qur’an dan kertas paper kan?”
Doni menutupnya dengan ketawa kecil . membuatku makin penat di siang yang panas ini
“Benar tebakanku . Kamu belum berubah,Don!Selama kamu masih menganggap kertas paper itu sama dengan kertas quran yang gak perlu diperlakukan istimewa karena memuat ayat Allah, maka selama itu pula bagiku : kepalamu itu sama dengan kepala anjing “
“Eits!kamu kok jadi kasar?tapi, ayo ku dengar dulu alasanmu. Makin galak Makin menarik“
“Itu karena Kepala manusia adalah sekedar untuk meletakkan mata ,hidung,telinga,rambut,bibir,dan semua yang bisa kamu raba sendiri kepalamu . Apa bedany a dengan kepala anjing yang untuk menaruh  panca indera yang sama fungsinya itu?. Aku harap itu bisa jadi persamaan atas pendapatmu  yang menyatakan kalo kertas quran dan paper  adalah “sama-sama tempat untuk dicetaknya huruf demi huruf”  . Kata demi kata . Kalimat demi kalimat . Sayangnya ,Don ..sumber huruf ,kata  dan kalimat Quran itu datang dari ‘sesuatu’ yang berbeda . Kamu sedang menyamakan sesuatu yang datang dari Tuhan dan dari makhluk . Maka  membandingkan kepalamu dengan kepala anjing,walau bisa jadi fungsi aktribut  yang menempel di kepala kalian adalah sama ‘ tapi…..sebagai mahluk yang diberi  keistimewaan akal dan hatinya , maka aktribut itu dapat difungsikan dengan  penyikapan yang berbeda . Sungguh Don, aku tidak sedang menjadikan Quran sebagai berhala . Aku hanya ingin berkata , --salut atas kemampuanmu menggunakan akal-- . Hanya saja ada batas di mana akal  harus tunduk pada yang menciptakannya . Soory,Don .aku jadi terlalau panjang bicara “

It’s OK. Kalo gak sekarang,lain kali aja kita bicara dan tukar pikiran dengan lebih jernih dan tanpa emosi
‘Ho ho ho ! kamu pantang menyerah juga . maaf, Don . Selama kamu masih jadi’anjing’ sekuler ‘..aku ogah legket sama kamu . Udah ah !,bye bye”kulambaikan tangan  sambil keluar dari kelas yang mulai kosong bersama Lusi yang setia menunggu perbincanganku dengan Doni .
“Kamu gak  akan pernah bisa melarang saya untuk tukar pikiran dengan kamu , Chi!” Doni teriak dan memastikan ucapannya terdengar olehku .

“ Salah! Tentu saja aku punya caranya untuk menolak bicara! . Talak 3 untuk kamu ,Don!’

Kamu belum bisa ber-empati-atas pemikiran saya ,Chi ! kamu kelak hanya perlu untuk berempati !”

EMPATI…?
Hmmm
Hmmm
Topik yang menarik . Karena aku yakin ini akan membuat perbedaan kita semakin jelas , Don!
                           Sebagai pegangan awal , perlu aku katakan pada kalian bahwa empati berbeda dengan simpati. Apalagi dengan mentari ,pro XL, halo ,flexi, 3, starone, smartfren dan esia .        
                         Menurut Davis (1983), empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami emosi, pikiran serta sikap orang lain. Empati memerlukan kerja sama antara kemampuan menerima , memahami secara kognitif dan afektif . Komponen kognitif melibatkan pemahaman terhadap perasaan orang lain . Kemampuan afektif akan  melibatkan respon emosional sehinga menjadikan seseorang untuk mengalami perasaan emosional orang lain.                       
 Hus’t !
                     Ketika saya bolak balik  bicara tentang emosi-,jangan diartikan sebagai kemarahan-lho yaa. Coz ,emosi itu gak laen adalah sebuah perasaan seperti :senang,sedih,marah,bingung gembira,….etc. Maka,empati itu sebenarnya adalah tahapan lebih lanjut sesudah simpati.
Jadi jangam mimpi bisa mencapai empati, kalo belum bisa melalui proses simpati .Sampai saat ini ,masih ada beberapa perbedaan  dalam memandang simpati dan empati .Dari beberapa literatur yang saya baca, beberapa tokoh agak enggak tegas dalam membedakan antara empati dan simpati. Bukan saja dari bahasanya yang berbelit,.. tapi juga aspek-aspeknya yang lumayan mirip. Sehngga kerap kali membuat saya dan beberapa rekan yang membaca akan mengakhirinya dengan garukan kepala sambil satu sama lain berkata, “Jadi intinya apa nih ?!”
                But tenang! Chi gak akan tega ngajak kamu ikutan bingung. Setidaknya berikut ini akan chi coba memaparkan beberapa ulasan yang sudah disimpulkan.
                Pada tahap simpati, manusia dilukiskan dapat mengerti tentang seseorang, sedangkan pada tahap empati..kita mampu untuk memahami, bahkan sampai-sampai dapat merasakan hal yang sama dengan orang tersebut. Bagaimana emosinya, sudut pandang pemikirannya, and all about her/him deh !
                Tapi, selain itu ternyata empati dan simpati juga mempunyai perbedaan mendasar. Yang (aha!)gak akan Chi beritahu begitu saja dengan mudah. Kamu harus menyimak cerita ini dulu. Ini cerita nyata lho :
1.Temanku Re, baru saja mendapat kabar ayahnya meninggal. Re,adalah kawan kost Chi. Sebagai sahabatnya,saya dan seorang teman memutuskan untuk menemani Re pulang ke rumahnya di Jakarta. Disepanjang perjalanan Re menangis. Sambil menenangkannya, tak kuasa Chi juga ikut menangis. Sementara, Tya sahabat kami hanya menggenggam erat tangan  Re. Memberi tissue, dengan sesekali menyeka air mata Re.        
                    Sesampainya di Jakarta , rumah Re sepi. Hanya ada beberapa kerabat  dekat dan tetangga. Baru saja saya duduk 5 menit, kami diberi tahu bahwa jenazah ayah Re sudah diberangkatkan ke Solo 5 jam yang lalu . Keputusan untuk menguburkan jenasah di Solo rupanya diambil secara mendadak . Dan HP Re saat itu tidak bisa dihubungi.
                      
                  Re tampak lemas mendengar itu semua .Chi merasakan kesedihan yang luar biasa .Betapa kasihannya melihat Re saat itu . Betapa Chi tidak ingin mengalami hal yang sama kayak Re kelak. Betapa tak terbayangkannya kelak jika tidak dapat melihat jenasahnya orang tuaku.Re merangkulku. Di pundak inilh Re menangis .Tubuh chi terguncang, ikut menangis bersamanya. Sembari memintanya untuk sabar ,dan mengingatkan betapa Allah masih menyayanginya .Didukung pertimbangan keluarga , Re dan kami tidak menyusul ke Solo ,karena jenazah akan segera dikebumikan sesampainya di Solo . Dalam waktu 5 jam tidaklah singkat untuk menyusul perjalanan darat .

                  Belum lama Re menyelesaikan tangisannya ,Tya meminta Re untuk menunjukan dimana kamar untuk menaruh barang .Bahkan Tya juga meminta Re untuk membereskan , lalu  membersihkan     diri . Chi nggak lupa ucapannya saat itu ,”Re, kamu cepatlah mandi .Habis itu ,kita beres-beres rumah .Nanti malam kan ada tahlilan .Kita buat rapi dulu ruangan ini .”

                      Dimataku,saat itu  Tya adalah cewek paling beleguk plus gak punya perikemanusiaan di jagat raya . Kenapa sih harus ajak Re buat kerja ?Re kan lagi sedih!
                        
2.       Ok, kini saatnya cerita ke dua. Alkisah seorang bocah yang berumur 40 hari , diserahkan ketangan saudara perempuan dari pihak sang kakak . Ini dikarenakan ibu sang bocah sedang mengalami beban emosional yang berat. Menginjak usia 5 bulan, kedua orangtua sang bocah resmi bercerai. Pada 2 tahun usia sang bocah, ibunda menikah lagi dan sejak itu sang bocah kembali asuhan sang ibu dan ayahnya tiri yang baru.
           Namun, kisah sang bocah gak berhenti di sini. Dikarenakan beban kejiwaan dari tahun ke tahun,
Maka bocah itu menghabiskan masa pertumbuhan selanjutnya dari satu saudara, ke saudara lainnya. Bisa disimpulkan, semenjak beberapa hari lahir, sang bocah selalu berpindah-pindah asuhan. (---segitu dulu ceritanya---)
                Dari, cerita pertama saya ingin kamu membuat sebuah penilaian antara Chi  dan Tya. Menurut kamu, siapakah yang lebih mencerminkan empati kepada Re ? Chi, atau Tya…?
               Jika yeiy memilih eike, kamu akn dapat 1 kecupan. Namun, bila kamu memilih Tya, maka kamu baru saja mendapatkan 1 ‘nilai baru’ dalam hidup.
              Inilah yang disebut dengan simpati dan empati. Keseluruhan sikap saya dalam kisah pertama, adalah gambaran dari simpati kepada Re. Sedangkan yang Tya lakukan, adalah empati. Ketika bersimpati, Chi melibatkan emosi. Merasakan seolah chi adalah Re. Merasakan seolah orang-tuakulah yang sedang meninggal. Chi merasa hanya chi lah  seorang yang paling mengerti Re.
             Sebaliknya, diantara suasana sedihan.. Tya masih berfikir tentang --tindakan apa yang paling tepat untuk Re--. Tya mengarahkan Re untuk mandi dan mempersiapkan acara kirim doa, rupanya tak lain untuk mengalihkan kesedihan Re, sekaligus menyadarkan Re, bahwa keberadaan Re di Jakarta amatlah berperan. Menyadarkan Re bahwa ia masih harus terus hidup dan tak boleh larut dalam ke sedihan. Tya tidak sekedar mengerti Re, tapi Tya bener-bener paham akan Re.
            Walaupun aku dan Tya sama – sama memiliki,akal,…namun disini hanya Tya yang mampu mencapai empati dalam kondisi tertekan.  Perasaan sedih  Tya terbukti tidak mampu memblokir akalnya. Gak seperti Chi yang terlibat penuh secara emosi, sehingga akal gak optimal untuk mengkondisikan diri ini, juga kondisi Re.

           Next, untuk cerita kedua, adakah diantara kamu yang akhirnya mengungkapkan rasa kasihan akan nasib sang bocah yang selalu pindah asuhan? Yang bisa di pastikan, sang bocah kurang mendapatkan rasa kasih sayang dari orangtua kandungnya? Bahkan, akhir dari kisah nyata ini, sampai menyebabkan sang bocah ‘lupa’ akan tempat lokasi penguburan sang ibu. Padahal, dia cukup dewasa saat menghadiri pemakaman ibunya.
           Namun , bila akhirnya kisah sang bocah ini , dimana akhirnya ia memiliki pekerjaan yang bagus , posisinya makin menanjak, bahkan akhirnya ia menjadi orang no 1 di negri ini , lalu berkuasa selama 32th , terjatuh dari kursinya karena isu Korupsi, kolusi, nepotisme-, masihkah kamu tetap pada rasa kasihan terhadap sang bocah ? Bagamana bila saya berpendapat bahwa ”Bisa saja sang bocah melakukan nepotisme karena rasa terimakasih pada keluarga besar yang telah merawat dan melimpahkan kasih sayang yang tidak didapatnya dari sang bunda dan ayah.”
           “ Bisa saja bila ini terjadi sama kita, hal tersebut juga akan kita lakukan “.
           Maka, marilah kita maklumi serangkaian peristiwa yang sudah terlanjur terjadi. Toh itu semua sudah terjadi dan gak bisa untuk di--balikin lagi oh oh balikin--. Bila kita terus menyalahkan beliau, itu hanya akan membuang energi. Beliau hanyalah korban berkepanjangan dari sebuah pola asuhan yang tidak hangat. Beliau sekarang pasti membutuhkan kasih sayang dan maaf dari semua.
         
Woi woi woi !
          Lagi-lagi itu adalah contoh dari simpati!
         Of course kita sah-sah saja untuk iba akan masa kecil sang bocah. Sebuah masa penting yang akhirnya membuat pola tersendiri dalam hidupnya ketika ia akhirnya menjadi seorang pemimpin negri. Sampai disini, bersiap-siaplah untuk membubuhkan tanda ‘TITIK’, karena kita akan beralih ke tahap empati. Kita harusnya memulainya dengan kalimat dan alenia yang baru.
        Tanpa memutuskan urat kemanusiaan, tetaplah apa yang sudah dilakukan sang bocah tesebut tidak bisa untuk mendapat permakluman dengan begitu saja.  Masa lalu sang bocah tidak bisa dijadikan ‘buku putih’ untuk menghapus semua kesalahan yang telah berimbas pada nasib rakyatnya. Kalau kata salah satu film india di era –jadul- nih, “Bilapun dua pengadilan didunia tidak mampu bertindak, maka pengadilan ketiga ( maksudnya Tuhan) pasti akan menggelar kasus tersebut.”
        Mengerti dan memahami seseorang akan pemikiran serta tindakannya, tak seharusnya membuat kita menjadi berpihak kepadanya. Tak seharusnya pula membuat kita memblokir aspek kognitif untuk bekerja dan merasa cukup karena pertimbangan sebongkah perasaan.
       Untuk menyambung percakapan chi dengan Doni, maka untuk kesekian kalinya chi katakan padamu…dan kini kupublikasikan untuk dipersaksikan banyak mata yang akan membacanya, bahwa :
       Percayalah kalau saya sungguh-sungguh telah ber-empati kepadamu, Doni. Bahkan mungkin sayalah yang selama ini dapat ber-empati kepadamu.
       Karena saya bukan hanya memahami pemikiran dan perasaanmu. Bahkan saya mampu menguraikan, menilai dan menyikapi pemikiran serta perasaanmu.
       Bukan karena Doni adalah salah seseorang rekan saya sehingga membuat saya melalaikan sebuah proses mencari, menggali, dan menyuarakan kebenaran.
       Ternyata,..kita sama-sama ber-akal ya,Don! Walau saya senantiasa mencegah diri untuk meng-agungkan  akal. Membuat dia (akalku) tunduk terhadap hal-hal yang tak terjangkau.
       Bila kelak untuk sekedar dikatakanberempati pada Doni, maka saya harus melenyapkan segala kognisi, menanggalkan harga diri, dan mengikari ayat suci…
Cuih!!!Sungguh, saya tidak sudi!!

Komentar

Postingan Populer