Like Father Like Daughter [*-*]
Nggak
tau bermula dari kejadian apa, tapi sejak dulu tuh Chi sering surat-suratan
sama Ayah. Bukan karena ayah kerjanya jauh atau jarang ketemu, tapi karena
banyak hal yang terkadang masing-masing dari kami merasa hanya bisa diungkapkan
lewat tulisan. Chi pernah kirim tulisan yang mengungkapkan betapa marahnya Chi
karena ayah dan mama pas marah ke Chi tuh menyisipkan kata-kata perbandingan,
“Coba tuh kaya Debby!. Rajin, pinter, feminim, gak neko-neko….”. Padahal, Chi
adalah Chi!!.Chi bakal lebih bisa nerima bila mereka cukup mengungkapkan, ”Nak,kamu
ini rajin dikit ngapa? Biar tetap ranking. Besok kita beli rok yuk!? Ayah mama
liat kamu gak punya Rok.” Jadi, nggak usah deh pake nyantumin nama seseorang
sebagai pembanding. Toh, chi juga gak pernah protes kenapa Ayah tidak seganteng
papanya Getta, atau kenapa mama gak seperti mamanya Debby yang mau bantuin
ngerjain prakarya menyulam dan Strimin, sehingga Chi , gak perlu SELALU kena
marah bu guru karena prakarya chi GAK pernah selesai !! (grmmffhh.. !!)
Tapi,
gak dikit juga kok surat-surat ucapkan terimakasih yang Chi kirimkan ke mereka . Simpel alasannya: Chi
(ehem) gengsi ngucapin terima kasih.
Kayaknya kok gombal banget!. Tapi kalo gak ngucapin terimakasih, kok rasanya gak
sopan! Makanya, mendingan’gombalnya’ lewat surat aja [lunas, kan?!]
Dari
ayah ,Chi belajar tidak cengeng. Jatuh, luka, kena marah, dihukum, semua itu
bakal dihadapi dalam perjalanan. Yang harus difikir, bagaimana cara mengobati
luka, bangkit, dan ngoreksi serta memperbaiki kesalahan [makanya guru TK Chi
gemes banget pas Chi dihukum jemur di lapangan karena gak mau juga minta maaf,
atau minimal nangis dan nyesal. Huuuh, padahal saat itu Chi sedang putar otak
gimana caranya bu guru kasihan sama Chi tanpa Chi harus minta maaf disertai
tangisan! [Maaf ya, bu Endang…]
“Duh, mama. Chi tuh lagi belajar priksa genteng! Besok kalo ayah
dan adek lagi pergi,lalu rumah bocor, kan harus ada yang berani betulin. “
Tapi,dari
banyak surat antara Chi dan ayah, dan dua yang paling berkesan. Mau tau kan ?
ngak aja deh…!
Yang
pertama: surat menjelang acara ulang tahun
Chi ke 17. Saat itu teman-teman ngotot minta Chi ngadain acara. Maunya
simple aja. Tapi, setelah di data, ada sekitar 150 fans (temen) yang mesti di
undang (termasuk adek + kakak kelas, temen les dan sobat di SMU lain). Yeah..namanya
juga selebritisekolah (aih). Chi putar otak bagaimana biar gak ngerepotin ortu.
Kebetulan temen band mau minjem alat-alat lengkap dan sound –GRATIS- (cihuyy!!).
Buat dekorasi, gengnya Doni siap bergadang sambil cek dan finising alat-alat
band serta tetekbengeknya dengan syarat Full snack + non stop rokok (beres
lah..!). Jadi, setiap seusai sekolah, Chi langsung sibuk prepare bareng
temen-temen. Niatnya Cuma satu, biar gak ngerepotin ayah mama. (Padahal kalo nggak mau ngerepotin yaa nggak
usah buat acara). Pagi H-2 , ketika mata masih lengket akibat cairan mata yang mengeras, Chi melihat surat tergeletak
di atas meja belajar..
“Chi,
ayah tau bentar lagi kamu 17 tahun, sudah besar dan mandiri. Namun, libatkanlah
kami, Ayah dan mamamu. Ini ayah sertakan dana Rp.zzz (angka nol nya 6
digit..hiiiy serem!) buat jaga-jaga.”
Fiuww! Simple banget surat ayah. Tapi
DALEM menghujam di jantung Chi!
Dan Chi baru bisa memaknai surat itu
secara ‘UTUH’ ketika mengijak bangku kuliah. Yaitu saat membaca buku Dr.Jmes E
Gardener:
“…Berapa tahun yang lalu, ketika baru
menikah/merencanakan menikah, maka bila membayangkan perkataan ‘mempunyai
anak’, yang muncul di benak adalah gambaran tentang anak di bawh 5th dengan
segala tingkah lucu & menyenangkan.
Tidak perna terlintas kalau
kelak ia akan tumbuh remaja dengan suara yang tiba-tiba berubah, dengan kita.
Perangai jadi aneh, mendengar musik yang asing bagi kita, memakai bahasa yang
berlawanan dengan cita rasa kita, menggandrungi pakaian yang menurut hemat kita
jauh dari pantas. Memakai logika fikir (kasus yang saat itu) yang tidak sejalan
dan tiba-tiba jadi sukar untuk di pahami……”
Hehe..maaf ya Ayah, ternyata saat itu
Chi menjadi anak yang sukar untuk ayah pahami. Tapi..yeaah..namanya juga darah
muda. Darah yang berapi-api ! iya gak Bang Rhoma?
Kalau
surat berkesan kedua adalah ketika guru B.Inggris Chi mengatakan di depan warga
kelas, bahwa Chi hanya seonggok ’ekor besar’ yang membuat ‘kelas kepala’ (bukan
keras kepala lho!) ini akan berjalan lambat (begitulah beliau mengibaratkan nilai Chi
yang tidak sesuai dengan kriteria seorang anak kelas unggulan). Beliau
malah meminta Chi mempertimbangkan untuk pindah kelas saja. Peristiwa itu gempar
banget! Bahkan taman-teman chi takjub melihat Chi tidak meneteskan air mata,
dan bahkan sampai reuni akhir tahun lalu, masih saja ada yang ‘takjub’ dan gak
henti ngungkit, kisah sedih’ itu sembari mengkaitkan kalau sungguh dia melihat
perubahan pesat pada diri Chi sekarang, blab la bla (respon chi saat itu : “Ah,
masa iya sih? Bukannya manusia sehat adalah manusia yang gak stagnan?!)
Padahal, jujur nih…di satu sisi, kalau Chi gak ketemu type guru seperti beliau,
mungkin Chi gak akan pernah bisa untuk berhasil berdiri TEGAK!!).
Chi
ingat sekali kata-kata ayah ketika Chi bercerita dan minta pendapatnya, apakah sebaiknya
Chi pindah kelas saja? Ayah menjawab kalau semua keputusan ada di tangan Chi. Bagi
ayah, Chi sudah gede dan kudu bisa mengarahkan hidup Chi kelak. Namun yang
pasti (masih kata Ayah), saat ini ada seseorang yang sedang melihat, apakah Chi
akan mundur , atau bertahan untuk kembali membangun kekuatan dan maju! Bisa
jadi, seseorang hanya memiliki standar ‘menang atau kalah’dalam hidupnya. Tapi,
yang sekarang ayah lihat, Chi adalah yang terbaik dan Chi masih punya banyak
kesempatan. Ayo dong!, Cuma masalah begini, kamu pasti bisa, Chi! (lalu sebuah
usapan ringan mendarat dan mengacak rambut chi).
Esok
paginya, tergeletak sebuah buku baru di meja Chi. Di cover dalam, ada tertoreh
tulisan :
Memang kehidupan ini
Tidak ada yang pasti,
Namun kita harus berani memastikan dan
memperjuangkan
Apa-apa yang pantas kita
RAIH
(ayah)
Kalo udah gini, Chi merasa.. apa beliau
sosok yang sama yang Chi jumpai belasan tahun yang lalu?! Chi ingat banget, pas SD kan Chi selalu bermasalah
di bagian menghitung berat (Kg, Hg,..ons..) dan ukuran (km,cm,mm,mid,yard…..).
Karena Chi merasa kalau minta diajari ayah maka Chi lebih paham, maka Chi
memilih berguru padanya. Padahal, ayah
kalau ngajari Chi tuh,.. mesti gemes (bukan gemes sayang), tapi gemes karena
Chi susah nyambung! Kalau sudah gitu, semua pasti pakai tekanan. Ya tekanan
intonasi sura, bahkan tekanan goresan pensil ayah bisa membuatnya jadi patah. Salutnya,
chi gak kapok-kapok buat nanya lagi ke Ayah kalau besok-besok nggak bisa
mengerjakan soal sejenis. Padahal mama Chi paling gak tega melihat ‘adegan’ ini berulang ulang
kembali. Tapi, lha wong Chi sendiri yang dating ke Ayah, berarti Chi seharusnya
sudah tau resikonya! Tapi dengan begitu, SEKARANG Chi berani kalo kamu tantang
hitung-hitungan! (hayo! Kapan kita tanding?!!).
Hmm,
benar-benar perpaduan yang unik, kan?! Kerasnya watak Ayah disandingkan dengan
lembutnya watak mama (walaupun mama saya kalau marah, aksi ‘diam’nya bikin ciut
juga). Kalo dah gitu biasanya Chi nyanyi aja (bermata duhai cantik banget, bermulut tapi tak bersuara,…) akhirnya
mama pasti marah!(yess!!,yang penting mama marahnya gak lewat diam!) Chi legaaa
banget kalo mama dah bisa mengekspresikan marahnya verbal,biarpun nasib chi
akan sama kayak’Nobita’.
Akhirnya
, tulisan ini Chi buatkarena tiba-tiba saja teringat sosok yang juga gak kalah
penting dari seorang ibu. Seseorang yang bisa jadi tidak membesarkan kitaselama
9 bulan 10 hari di ‘perutnya’, namun ia telah membesarkan kita di’hatinya’.
Sosok
yang kebanyakan kita jauhi karena ‘kekerasan’ hatinya . Sehingga kita lupa
bahwa ia juga manusia, bahkan sosok orang tua yang gak kalah butuh ungkapan
kasih sayang,-sama lembutmya- seperti kita berekspresi sayang terhadap ibu.
Kalaupum
sosok yang gagah itu selama ini ‘keras’,mari kita ajarkan padanya cara
mengekspresikan kasih sayang dengan kelembutan. Bahkan bilapun sosok gagah itu
ini sedang ‘melenceng’, maka kewajiban kita untuk mendampinginya kembali
kejalan yang lurus. Do’i kan juga
manusiaaaa!(Chibi.maruko)
(INI for my dear Ayah : yang mengajarkan
padaku untuk merdeka, tapi mabda’i.
Berdedikasi, namun tetap jadi
diri sendiri ).
‘semoga sisa umurmu bermanfaat
di jalanNya, Yah+ terimakasih untuk mama yang hebat !!


Komentar
Posting Komentar