....................... Curhatnya Mama
“Chiiiiii…plzzzz…Mama
butuh solusi..hik hik “ (suara hopeless mama terdengar di HP).
Biar kamu gak
ketinggalan episode..Chi cerita dari awal dulu yaa.
Karena
kesepian sejak Chi dan adik kuliah di Yogya, Mama inisiatif mengambil anak
asuh. Biar rumah rame katanya. Naaaah, nampaknya sekarang doa mama terkabul,
karena Anak tersebut sudah berhasil membuat ‘Rame’! Hurey !
Nama
lengkapnya : Jumilah. Kelas 5 SD. Perempuan dooong! Manis, kulit sawo matang,
mungil, dan tahi lalat yang tepat di ujung hidungnya itu bisa buat geregetan.
Saat kami
bertanya “siapa nama panggilannya?”. Dia menjawab “MILA”.
imuuuut kan ?
Untuk
memudahkan teknis pergi dan pulang sekolah, maka Mila dipindah ke SD yang dekat
rumah.
Untuk
memudahkan mama dalam memantau Mila pulang bimbel dan les renang,..maka mama
memberikan Mila sebuah Handphone.
Chi dan adik
sebenernya sempet nyengir..”duile..saingan kita nambah nih”
Dan kalau
sampai disini kamu nanya “Kok ayah chi gak ditampilkan sih?”
Yeaah..itu
karena Ayah Cuma berpendapat, “Suka-suka mama kalian lah. Kasian juga kalo
kesepian karena kalian kan kuliah jauh dari rumah semua”
Awalnya, mama
cuma memantau kalau konsentrasi Mila sering terganggu dengan HP. Mengerjakan PR
yang 5 soal…bisa 2 jam. Yaa karena sambil ‘Nyambi” balas SMS dan up date status
FB.
Sampai suatu
malam, mama mau mematikan lampu kamar Mila, karena Mila terlanjur ketiduran
tanpa mematikan lampu….ada sebuah SMS datang.
Di layar
nongol gambar amplop kuning dan sebuah nama pengirimnya : P@p44h
“Haah?Papah??!
Mila kan Yatim Piatu! Ini Papah yg mana??”
Maka
dibukalah SMS itu
“K’lo cpk bo2
j44. Pe’ k’t3mU B1mb3L besok y4ch Mah”
(buat kamu
yang gak Alay, ini Chi terjemahkan nih : “Kalau capek, tidur aja. Sampai ketemu
di Bimbel besok ya, Ma”)
Mama yang
ahli baca SMS alay langsung lemes.
Dipandanginya wajah kanak-kanak Mila. Sejenak hatinya berkata “Ah,gak mungkin
sekecil ini sudah pacaran”. Sejenak lagi melihat HP, mama menggumam, “
Tapi..mungkin saja, toh anak jaman sekarang pacaran?”.
Sejenak
terakhir, mama melihat tumpukan kliping Koran di meja belajar Mila. Mama jadi
teringat berita di Koran yang dibacanya 3 hari sebelumnya : SISWI 6 SD GAGAL
UAN KARENA KETAHUAN HAMIL. Pelakunya adalah pacar korban yang duduk kelas 2
SMP.
Esok paginya,
Eng ing eng..
: Saatnya INTROGRASI, galz !
Sambil
terisak isak Bombay..Mila mengakui kalau P@p44h itu dilakoni oleh ‘Arno’.
Kawannya di bimbel. Sudah 3 hari ini mereka ‘jadian’.
Dan sejak itu
pula kalau di SMS mereka sering menyapa
dengan Mamah-Papah (aiiih)
Oia, sekedar
Intermezo.. nama lengkap Arno adalah SUPARNO.
Chi
sebenarnya salut dengan kemampuan Arno memenggal namanya.
Tapi kalo
adik chi, malah merespon, “Yg bener dong! Namanya masak suPORno, sih? Hehehe”
dan ledekannya malah Cuma membuat mama kesal.
“Ayolah
chi..bantu mama. Kamu kan kuliah di Psikologi. Harus bisa masalah gini dong!.
Jangan sampe kamu gak mau terlibat lho! ” mama mendesak.
Yg gini nih
yg namanya gak asik! Sebenarnya mama lagi minta bantuan, apa sedang mengancam
sih?
Chi :
“Mah…pertama nih yaa. Dari awal kan chi gak setuju mama kasih HP ke Mila. She
is so Young, mom! Dan sejauh ini, chi belum pernah menemukan penelitian yang
menyatakan bahwa anak kecil dapat menggunakan HP dengan bijaksana”
Mom : “Gak
perlu bawa-bawa penelitian ilmiah! Ini kasus real!”
Chi : “ Kudu
dibawa-bawa dong! Kudu ilmiah! Karena dari awal, mama juga bawa-bawa fakultas
tempat chi kuliah. Di kuliah,kalo gak ilmiah gak mungkin lulus. Chi lanjutkan
dulu…”
Mom :
“Langsung ke solusi!”
Chi : “ Deal!
Solusinya mama ambil HP si Mila”
Mom : “Yaaaah,
primitive banget solusimu! Lalu Mila kita pindahin sekolah dan Les biar gak
ketemu Arno? Lalu mama antar jemput dia tiap hari? Duh! Pikirin dulu deh. 1x24
jam lagi mama telpon dan kamu harus punya solusi yg ampuh..titik.
Assalamualaikum!”
(hik..hik..mama
tega banget keluarkan kata Primitif)
Walau,
bilapun ada sisi benarnya, mengambil HP Mila memang gak menjamin dia gak
berhubungan dengan Arno. Juga..bagaimana bila 1 Arno ‘Mati’..lantas tumbuh 1000
Arno lainnya?
Dan sisi
benar lainnya adalah : Bagaimanapun Chi kan gugup karna mama mendadak telepon
dan minta solusi. Chi kan butuh waktuuuu..hu hu hu
Ah! Daripada
pusing sendirian, mending pasang wajah melas ke Wiwik aja ah! Pasti dia iba dan
beri solusi.
“Minta mamamu
panggil guru Ngaji buat Mila aja, Chi” wiwik mulai beri solusi.
Chi : “Si
mila tuh sudah ikut TPA juga kok! Sudah Iqra 6 malahan”
Wiwik :
“hihihi, maksudku guru ngaji yang bisa beri materi kayak pas aku dulu ikut
ROHIS ituuu lho. Anak sekarang kan kebanyakan stimulus,Chi. Sinetron, film, lagu,
Klip, bacaan, semuanya mengarah ke suka-sukaan antar lawan jenis. Jadi, mereka
perlu bekal tentang bagaimana sebenarnya Tuhan mereka membuat sebuah aturan
main terhadap hubungan lawan jenis”
Chi : “Apa
gak terlalu berat tuh materi kajian? Ini anaknya baru 5 esde lhooo Wik”
Wiwik : “
Tergantung yang mengemas lha Chi. Pinter-pinteran si Guru ngaji nanti lah. Yang
pasti si Guru harus orang yang dapat membuat Mila nyaman namun juga dipercaya
oleh si Mila”
Chi :
“Yaaaah, Wik! Bukannya gak tau terimakasih…tapi apa gak ada solusi yang lebih
berbau Psikologi gitu?”
Wiwik : “Eh!
Itu tadi psikologis banget lho! Kita membantu Mila menemukan konsep dirinya,
lantas membentuk kepribadiannya.”
Sampai di
kost..chi masih terngiang kalimat Wiwik yang terakhir. Konsep diri….juga
Kepribadian.
Dipikir-pikir,
Chi dan adik yang jelas-jelas anak kandung, selama ini gak pernah buat mama
kalang kabut soal masalah yang melibatkan lawan jenis, apalagi pergaulan.
Bukannya gak kepengen ‘coba-coba’ bermain api
layaknya remaja lain.
Tapi
jujur..Chi punya banyak alasan untuk bermain LURUS terhadap hidup Chi.
Chi
ter-obsesi dengan 2 jenis pakaian. TOGA, dan BAJU PENGANTIN (hehe)
TOGA sebagai
obsesi terhadap ilmu pengetahuan. Menguasai, mengaplikasikan, mengembangkan,
dan menjalin banyak hubungan social.
BAJU
PENGANTIN sebagai obsesi terhadap bertemu seorang pangeran, menerapkan
persahabatan seumur hidup, masak didapur bersama, dan kamu gak perlu tau dooong
planning lainnya
Chi pengen,
bisa memakai 2 pakaian tersebut dengan suasana terbaik. Suasana yang bahagia,
prestisius, penuh restu, penuh suka cita, dan tentu penuh Ridha Allah.
Karena itulah
chi rela untuk memasang tali kekang terhadap keinginan gejolak muda (uhuy) agar
kelak bisa meraih obsesi itu.
Yeaaaah,
mungkin Mila tidak/belum memiliki obsesi untuk masa depannya. Sehingga Mila
rela ‘mengobral’ dirinya lewat kalimat-kalimat di SMS…dengan memberikan kasih
sayang ke orang yang tidak halal.
Aaaaaaargh!
Mungkin memang ide Wiwik yang mujarab untuk kasus pergaulan tahap awal seperti
ini.
Chi raih
handphone.
----Call Mama
---- ring back tone terdengar --- “lepaskanlah..ikatanmu….dengan aku..biar kamu senang..” (ya ampyun mama!
Selera ABG buanget!)
“Ma..? ini
Chi.
Mama tau Mbak
Laras yang ngekost di rumah Bu Edi tetangga mama itu kan?
Yang ngajar
TPA. Yang kuliah di Unila.
Dia itu
orangnya asik, ma. Mudah dekat dengan anak serta remaja. Orangnya solutif.
Smart. Sholihah pula. Mama minta dia untuk datang ke rmh 2 kali seminggu.
Minta untuk
damping Mila mengaji.
Menceritakan
kisah-kisah tauladan.
Menyisipi
tentang kepribadian dan sosok anak islam yang seharusnya.
Mensupport
Mila untuk tegar dalam usahanya menjadi anak sholihah.
Dengan
demikian, semoga Kepribadian Islam Mila dapat terbentuk.
Pandangannya
terhadap masa depan juga lebih tergambar.
Jadi…dengan
sendirinya Mila lah yang akan memutuskan untuk meninggalkan kegiatannya yang
melenceng selama ini.
Yaaaaa,
anggap aja ini semi konseling dan pendampingan.
Semoga cocok.
Kalo cara ini
gak berhasil, nanti kita ke cara yang ekstreem”
“Maksud kamu cara ekstreem itu apa?”
“Panggil aja
si Arno. Minta dia nikahin Mila!”
“Ngawur!”
“Ekstreem,
tapi kan gak ngawur. Itu mah lebih halal”
“Padahal mama sudah hampir memuji solusimu yang
panjang lebar tadi. Mama setuju banget kalo si Laras yang kita serahkan tugas
mulia ini. Ok deh,..tapi kamu terus bantu mama untuk follow up nya!”
“Gaya amat!
Pake follow up segala!”
” “Itu yang penting, hey anak muda! Berapa
banyak temen mama yang ikut Spiritual question, ikut acara dzikir, ikut
training inspiring. Tapi mama liat, efeknya Cuma maksimal bisa bertahan 1
bulan. Selanjutnya mereka kembali ke tabiat aslinya. Itu artinya, follow up itu
penting untuk memantau setiap kemajuan yang telah dicapai. Membuatnya tetap
ajeg dan stabil”
“Iyaaaa
deeeeh! Siap laksanakan!”
“Gitu dong! Udah dulu ya,..mama lagi sibuk nih”
“Ngapain
sih?”
“Lagi baca dan sortir SMS di Hape Mila. Mumpung
anaknya lagi Les dan Hapenya ketinggalan di rumah”
“Dasar! Gak
prof!”



Komentar
Posting Komentar