PaniC



Saat itu.. baru saja kelar isya bareng mama. ”Kamu cium bau gosong gak,Chi?”Tanya mama. Saya mengendus sebentar, lalu setelah yakin ikut mencium bau yang sama, saya meng-iya-kan dengan anggukan. Karena yakin banget kalo bau itu dari luar rumah, serentak saya dan mama berjalan ke teras. Dan tanpa hitungan detik, kami menyaksikan pemandangan yang-sumpah-gak ingin kami lihat kembali seumur hidup. Atap rumah tetangga kami terlempar ke udara disertai ledakan dan api yang spontan membesar dan menjalar ‘Astaghfirullah…!!’
          Suara riuh rendah dan teriakan histeris cukup membuat saya tegang, sehingga hampir dua minggu sesudahnya, saya selalu memuntahkan makanan yang mencoba masuk ke lambung. Tapi,nyatanya, saat itu ada yang lebih panik! Dan orang tersebut adalah ayah Chi . Sosok yang selama ini selalu tampil berwibawa, tiba-tiba saja menjadi serabutan ketika dihadapkan pada peristiwa itu. ”Aduh..!! telepon polisi! Eh! Pemadam kebakaran saja!buku telepon! Aduh, dimana buku telepon sih..!! “ Ayah berlarian di dalam rumah.  
          Sekali lagi, do’i memang tepat  milih pasangan hidup! Mama segera menghampiri ayah dan berkata, ”Ayah, sekarang yang penting ayah memutus hubungan listrik rumah kita. Mama akan hidupkan lampu emergency.  Soal telepon Pemadam kebakaran, biar mama.”
-alhamdulilah-, singkat tulisan…api berhasil dipadamkan,walau ayah tetangga saya tersebut terkena luka bakar serius.
          Dari situ, Chi benar-benar mendapat banyak pelajaran. Dimana : KETIKA unsur berfikir tidak diberi ’tempat’,
Sehebat apapun orang tersebut, maka yang muncul  gak lain hanyalah ke-PANIK-an !
Dan orang-orang yang panik, sesungguhnya adalah orang-orang yang berfikir secara mikro.
          Dan’ tawaran’ teori Chi barusan, cuma beda tipis jika  dibawa ke dalam kondisi nyata negeri ini sekarang. Di negri yang ngaku dah 66th merdeka ini, berapa banyak coba orang-orang yang senantiasa panik dalam bertindak ?!
Berapa banyak orang-orang pintar yang masih berorientasi pada hasil, dan mengabaikan proses..? Maka gak heran dong kalau  produk-produk mereka semuanya instant dan palsu.


[Chi  jadi ingat ‘sajak palsu’nya Agus R.Sarjono, deh! Yang sempet dibacakan pas do’i mampir di gedung teater taman budaya].
Dimana ketika sistem pendidikan palsu dengan memakai kurikulum  yang bersumber pada sumber palsu, ya pasti hanya akan melahirkn lulusan-lulusan pelajar dan sarjana-sarjana palsu, yang kemudian menghambur ke tengah pembangunan palsu. Lalu akibat dari gertakan kurs palsu, maka orang-orang palsu itu kemudian menerimakan  dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di seminar-seminar palsu, menyambut tibanya demokrasi palsu yg berkibar kibar begitu nyaring dan…P.A.L.S.U.
          Hhhh, terkadang Chi merasa “Apa Alloh gak menyesal sudah  memilih manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi ?. Karena yang Chi liat, kebanyakan manusia sekarang gak jauh beda dengan udang kecil yang Chi saksikan di program Nat Geo Wild.

          Yang Chi liat disitu, sang udang kecil cuma berfikir kalau musuhnya adalah ikan besar yang memang sama-sama penghuni rawa-rawa tersebut. Maka gak heran kalau cara berfikir si udang kecil itu cuma seputar ‘Bagaimana cara agar bisa lolos dari si Ikan besar?’. Sangking sibuknya si ikan kecil meloloskan diri dari ikan besar, dia tidak berfikir kalau sebenarnya  masih banyak musuh-musuh yang jauuuh lebih besar dan berbahaya –selain si  ikan besar-. Masih ada ular rawa, buaya, bahkan udang besar yang juga tega memangsa si udang kecil. Dan yang Chi sebut barusan itu, hanya musuh-musuh si udang kecil sebatas satu komunitas rawa. Padahal rawa tersebut hanya bagian kecil dari ekosistem hutan. Dan tentu saja hutan tersebut cuma potongan kecil dari bagian dunia!
          Dan naasnya, ini bener-bener dibawa pas praktik pemilihan pemimpin –tanah –air-mata- ini. Entah berapa banyak SMS yang hilir mudik ke HP Chi, cuma buat ngajak Chi menggunakan hak pilih suara kepada salah satu calon dengan alas an: “Kalo kita gak milih si XYZ, bisa jadi orang dari  non muslim yang ‘naek’ jadi Presiden. Atau bahkan mengatakan pada saya kalau ROMA(vatikan) menyerukan agar umat mereka memilih partai tertentu. Yang bikin tambah lucu, teman Chi tersebut ngaku kalau himbauan itu doi baca langsung di websitenya partai tersebut.

          Oh ,Em Gi! Biarpun Chi gak jenius, tapi kalo Chi jadi partai tersebut, Chi GAK bakal nyantumin himbauan tersebut di web site yang dengan mudah dimasuki siapa saja [tanpa  password lagi!]. Malah, Chi  berfikir sebaliknya. Bagaimana bila ini adalah sekenario dadakan  musuh-musuh parpol Islam yang pengen waspada dengan membaca ke-antusias-an orang-orang Indonesia  yang konon jumlah muslimnya terbesar didunia! Gak bisa  kita pungkiri, di setiap PEMILU, beberapa partai Islam me/ditargetkan meraup banyak massa. Jadi ,SMS-itu bisa saja dari musuh  itu sendiri, dengan tujuan untuk  ‘manas-manasin’ umat Islam.       

          Dan nyatanya, walau SMS SMS itu menyebar, tetap saja yang menang di PEMILU kemarin adalah partai-partai Nasional! Naaaah, ini berarti.. pihak musuh gak perlu ganti strategi menghadapi umat mayoritas negeri ini. Lha wong ‘sudah dipanas panasi’ saja ternyata mereka masih lebih percaya dengan partai Sekuler kok!!!.
          Selain itu, terasa banget kalo PEMILU tuh  diposisikan  sebagai urusan hidup matinya rakyat Indonesia. SMS yang menyatakan perang itu disambut PANIK dengan terus menerus menyebarkan SMS ke teman-teman yang lain. Sampai akhirnya membuat kita bener-bener ‘blank’ dan hilang kesadaran bahwa musuh kita sebenarnya tuh jauh lebih besar dan berBAHAYA! Kepanikan akhirnya membuat kebanyakan orang menstandarkan hanya pada kenyataan yang terlihat saat itu ajah.

          Kalo sudah gini, Chi cuma bisa menepuk pundak ‘ mereka-mereka’ yang tetap keukeuh dan idealis terhadap islam. Biarpun Chi juga melihat idealisme mereka diterjang pernyataan-pernyataan: “Untuk menerapkan islam yang idealis itu sangat tidak realistis,boy!” Padahal bagi Chi, idealis dan realistis itu gakt usah dipertentangkan. Karena, islam adalah sesuatu yg idealis [cocok buat siapa saja, kapan saja, dimana saja] dan juga realistis [bisa diaplikasikan / gak sekedar khayalan]

          And bicara soal ideal, ‘ukuran’ itu kan muncul karena kita  memang tidak/susah menemukannya di era  sekarang.  Sama seperti sebuah buku yang Chi tamatkan (beberapa waktu lalu[tentang perkembangan zionisme]. Dari situ Chi benar-benar bisa mempelajari daya juang kaum yahudi yang dulu ternyata sangat dipandang remeh  oleh dunia. Dimana berawal dari  propaganda-propaganda media masa dan organisasi-organisasi kecil, hingga akhirnya kini mereka bisa mengguncang, bahkan mendikte-adi kuasa sekaliber USA.

          Sama juga seperti teman Chi yang lagi nyari calon suami ideal dengan kriteria :  Tinggi, putih, ganteng, kaya, sholeh, pinter cari duit, pinter  masak+nyuci, pinter nyanyi+ngaji, lemah lembut, penyayang, tidak sombong..(duh, IDEAL banget!!). Walau Chi gak bisa nyela kalau bisa jadiiii, cowok seperti itu ada (entah di bagian dunia mana). Tapi masalah UTAMAnya, apakah salah satu dari makhluk langka seperti itu berminat dengan kawan Chi..??) ha ha ha,  do’i monyong dan keki banget  pas Chi lontarkan kalimat tersebut!

Kembali ke inti:
Sekarang yang perlu dicermati, partai-partai Islam maupun NON islam yang meramaikan  pemilu  juga sesungguhnya cuma sibuk di area ‘Hasil’ (bagaimana biar orang  tertarik dengan partainya ), bukannya pada ‘proses’ (bagaimana biar umat SADAR kalo lagi punya musuh dan BIG problem).

               Fiuww, ngomong-ngomong tentang ‘amal sholeh’ yang biasanya jadi iming-iming di SMS rayuan agar Chi ikut pemilu…, wuaaah bisa panjang pembahasannya. Coz, makan-makanan halal, nikaaaah (huruf ‘a’ nya ada empat karena cowok halal nikah 4x), itu kan juga amal sholeh. Tapi pertanyaannya, ‘Apa amal sholeh seperti itu bisa membawa pada penerapan Hukum dari Sang Empunya Jagad Raya..??’
          Lagian, Chi gak merasa Gol Put tuh! Karena Chi kan punya PILIHAN. Pilihan Chi adalah untuk tetap memperjuangkan apa-apa yang pernah di contohkan oleh kekasihNya. Sebuah contoh sistem kehidupan, yang siapa pun bakal ngiri dan kangen berat pingin ketemu dan diatur olehnya. Rasa kangen yang juga pernah terlontar dari mulut masyarakat Spanyol ketika mereka mendengar bahwa negeri tetangga sudah ditaklukkan oleh pasukan  tentara Islam. Saat itu, rasa kangen tersebut  terangkai menjadi sebuah doa, “Kapan yaa…., pasukkan tentara Islam dateng ke negri kita?”
          Sebuah doa yang dijawab oleh Alloh dengan menjadikan Spanyol sebagai salah satu bukti kegemilangan penerapan agama  Islam.
Wow !

Komentar

Postingan Populer