Kumohonkan CINTA yang REALISTIS


Sepertinya ada dua wanita dalam hidupku yang membuat aku  sulit untuk bersikap ‘adil’ dan realistis  saat harus berhadapan dengan wanita lainnya.
Yang pertama adalah mama saya,
dan yang kedua adalah putri (anak) saya.

Mama saya adalah wanita yang cerewet, galak, dan itu adalah mutlak.
Namun bila kalimat penilaian itu keluar dari orang lain (bahkan keluar dari ayah saya), maka sungguh saya sangat TIDAK bisa menerimanya.
Ada suatu pemberontakan lisan yang akan saya lontarkan untuk membela mama saya.
Karena, rasanya hanya saya yang boleh  menilai mama saya sendiri.
Lagipula, saya hanya merasa cerewet dan galaknya beliau adalah seperti standar kebanyakan kaum ibu lainnya.
Setidaknya beberapa kali saya pernah menyatakan pujian kepada teman saya, bahwa betapa baik dan lemah lembutnya ibu mereka...sembari terkadang  saya tutup dengan kalimat, “
Kamu beruntung punya ibu yang tidak cerewet seperti mama saya”.
Tapi,
85% dari mereka bereaksi tersenyum dan balik berkata, “ Siapa bilang ibu saya gak cerewet? Doi gak cerewet karena ada kamu. Coba deh 1 bulan minap disini, kamu pasti tau kalo ibu saya tuh cerewet”.

Hehe...maka apakah ‘cerewet’ itu seharusnya kita beri standar, ya?
Karena pada akhirnya standar cerewet itu sangat bergantung pada paradigma orang yang disekitarnya.

Semisal, ada ibu yang
rajin bertanya pada anaknya / suaminya :
Mau makan apa hari ini?
Berangkat kuliah jam berapa, nak?
Pulangnya jam berapa?
Apa ada rencana setelah pulang kuliah?
Makan siangnya dimana?
Pake dasi yang mana, Pa?
Kemejanya tidak yang biru saja?
Hari ini mau kopi atau teh?
Nanti kalau ibu SMS, tolong di bales segera ya.
Dll
dst

Saya yang pernah dalam bad mood dan masa PMS, sempat menggerutu dalam hati, “Ampun! Knp sih Mama tuh cerewet banget  hari ini?”.
Ah, adakah kalian yang telah membuat suatu alat ukur untuk memeri level ‘kecerewetan’?
Saya mau pesan 1


Kini, tentang wanita yang kedua yaitu : Putri saya.

Namanya Sekar.
Full namenya Diajeng Sekar Titising Khadijah.

Sejak memasuki karir pertama sebagai ibu, saya merasa bahwa hanya putri sayalah bayi termanis di dunia.
Wajahnya, caranya menatap saya, suaranya...semuanya menggemaskan.
Memang sih, foto-foto bayi imut banyak terpampang di FB bahkan televisi. Saya akui mereka cantik dan imut. Tapi bagaimanapun, putri saya adalah yang termanis bagi saya.
Anak-anak lain mah lewat...!

Namun....Ah, bukankah itu sangat tidak realistis?
Bukankah itu -sangat- sangat- sangat- dipengaruhi oleh ikatan emosi dan batin karena saya seorang ibu dari putri saya?
Bahkan, sekalipun saya tau bahwa putri saya memiliki ‘kenakalan’/ kerewelannya sendiri, saya akan sangat tidak rela bila keluhan itu muncul dari orang lain,  termasuk anggota keluarga.

Oh, Tuhan!
Sebagai penutup tema ini,
dapatkah Engkau selamatkan saya?
Selamatkan saya dari cinta yang tidak realistis.
Selamatkan akal sehat dan hati saya, agar sayapun dapat dengan jelas melihat sosok-sosok yang saya cintai .
Bahkan ketika orang lain ‘mengeluhkan’  mereka, saya dapat meletakkan diri saya dengan adil dan menemukan apa-apa yang dikeluhkan orang lain atas mereka.
Jangan sampai saya dibutakan oleh cinta, sehingga saya selalu membela sosok yang seharusnya saya dampingi untuk selalu dalam jalan kebaikan.

Sebaliknya, jadikan juga orang-orang yang mencintai saya karenaMu....dapat melihat saya dengan jernih. Dapat mencintai saya dengan rasional.
Kepada Suami saya, Ayah saya, Mama saya, Adik saya, Putri saya, Keluarga besar saya, Sahabat saya, Kawan saya, kawan dan kenalan saya,
bahkan untuk orang yang tidak nyaman dengan pribadi saya ;
semoga Tuhan memberikan hati dan akal yang terang kepada kalian semua dalam melihat pribadi saya. Semoga kita hanya mencintai apa-apa yang Allah cintai.
Semoga kita hanya membenci apa-apa yang Allah benci.
Semoga permintaan sederhana ini dikabulkan.
Semoga.
Amiin.

Komentar

Postingan Populer