SaAT
Saat seorang kawan (yang pakaiannya terkenal gak matching)
tiba-tiba mengomentari pakaian yang sedang
kamu kenakan....
ABAIKAN saja! Karena lebih baik jika dirinya membenahi dulu
selera berpakaiannya.
Kamu juga boleh meminjamkannya majalah atau buku—padu padan
busana muslimah padanya.
Saat
seorang Ibu yang kamu kenal karena selalu mengenakan ‘daster’, rambut tidak
rapi, wajah berminyak, baik di dalam rumah atau ke luar rumah,
dan
dia mengomentari Tante mu yang berpakaian gaun jeans dengan lengan ‘you can
see’, rambut rapi dan wangi untuk menyambut suaminya pulang kerja,
lantas sang ibu daster berkata kepada Tante, “Kok seksi banget!?”
Maka
kelak kamu jangan meniru si ibu daster itu, ya…..(janji !)
Kamu
malah harusnya belajar dengan Tante, bagaimana cara mencari pahala lewat
berpakaian rapi di dalam rumah, agar mata suami lebih seger.
Saat
kamu melihat status Facebook kawanmu yang
menuliskan :
“Saya heran kawan saya
pakai make up apa di foto wisudanya.
Karena dia bilang tidak
di ‘macem-macemi’.
Tapi kok manglingi, ya?”
Lantas
Tulisan itu mendapat puluhan komentar.
Dan dari beberapa tulisan tambahannya, kawanmu itu menulis lagi :
“iya nih, kawanku itu
muslimah yang berjilbab”.
Saat
datang komentar lagi , bahwa kenapa kawanmu itu tidak bertanya langsung saja ke
‘sang wisudawati’?
Kawanmu
itu menjawab lagi :
“Mungkin kapan-kapan,
karena kawanku itu orangnya susah serius”
……………..
……………..
Yeah,
gak papa kok kalau lewat penggalan diatas kamu jadi memiliki penilaian : “Kok tuh
cewek gak sportif ya? Gak kesatria! Tidak mengedepankan Klarifikasi kepada
sosok yang dia akui sebagai kawan”
Hhh, entah
“perkawanan” yang seperti apa yang terjalin dibenaknya!
Kenapa dia harus memilih
untuk melemparkan pertanyaannya ke forum?
Tidakkah
lebih baik menanyakannya langsung dengan sang wisudawati?
Apakah
dia tidak berfikir, bagaimana perasaan sang wisudawati saat membaca status
Facebook nya?
Tidakkah
dia terfikir efek perkawanan mereka kelak?
Ah, umur seseorang
terkadang tidak menjadikannya cermat dalam menggunakan fasilitas teknologi di
sekitarnya.
Liat aja….beberapa anak ABG
sempat ‘kabur’ dengan kawan baru mereka di FB. Sebagian karyawan mengalami
anjlok dalam kualitas kerja mereka karena sibuk memperbaharui status di
jejaring sosialnya. Ada juga kabar suami-istri yang bercerai karena aroma
‘perselingkuhan’ setelah mereka menjalin kontak darat dengan orang-orang baru
yang dikenalnya di dunia maya.
Dan
ah….yang saya saksikan..beberapa hubungan perkawanan maupun persahabatan ada
yang tamat karena sebuah komentar, kalimat, atau foto yang di unggah.
Chi
gak pungkiri kalau efek ‘positif’ juga selalu menguntit disisi efek negatif.
Lewat
jejaring sosial, chi bisa ketemu kawan-kawan di masa TK, lalu SD hingga kuliah.
Bahkan
bisa ‘bimbingan akademik’ dengan dosen lewat FB.
Bisa
tau aktivitas kawan lewat status yang merka tulis, lantas mengomentarinya
dengan positif.
Okey…
semoga umur, kebijakan hatimu, juga kualitas akalmu bisa membawamu untuk selalu
memperbanyak jumlah kawan dan meningkatkan kualiatas persahabatan secara
personal dengan mereka.
Oia!
Ada satu hal lagi!
Bila
ada kawan yang secara terbuka menyampaikan sisi kekuranganmu,
Ada
baiknya kamu tetap tampilkan wajah tersenyum.
Dengarkan
hasil ‘penjurian’nya dengan hati yang
lapang.
Tekan
emosimu. (tarik nafas…hembuskan…)
Lalu
dengan nada suara manis, mintalah agar
dia menyebutkan sisi positifmu.
Sebanyak
mungkin yang bisa dia sebutkan!
Usai
itu, hitunglah bersama,
“mana yang lebih banyak? Sisi positifmu, atau
malah negatif lah yang dominan?”
Saat
itu, tawarkan padanya, “Apakah dia masih mau menjadi kawanmu? Dengan segala
kekurangan dan kelebihanmu?”
Karena
bila dia tidak bersedia……(selagi sisi positifmu jauuuuuh lebih mendominasi),
kamu GAK PERLU khawatir.
Toh…gak
semua orang harus suka dengan kita.
Gaya
kita…
Cara
kita..!
Keluarlah saja, dan carilah kawan yang baru ^.^


Komentar
Posting Komentar